FTL

March 26th, 2008 by tyateenager

Hidup ini adalah BULLSH*T
dimana aku tak punya hak untuk berkhayal.
mengapa manusia harus selalu imajiner, padahal mereka harus lahir dan mati dalam hidup?

Hidup tak pernah lekang dari pemikiran-pemikiran konservatif yang selalu mengekang tiap nafas dan desahan kata dari bibirku.
Populer dijadikan stereotype untuk berkasa dari cermin yang kau pecah dua untuk belahan pantat Marlyn Monroe!
Hidup tak beda seperti ikan maskoki yang hidup di aquarium dengan mata besar seakan-akan haus ilmu tapi tak sadar dikekang kaca-kaca!
Penyandera kebodohan yang merasuk ditiap gelembung air terakhir!

Setiap perkataan tak pernah didengarkan tak begitu pula dengan pemikiran dan persepsi aku dengan segala tai sapi ilmu yang kita baca dari balai pustaka!

Terus berubah hingga negara lelah mengubah sistem belajar mana yang bisa kau telaah!

Tak perlu repot-rept berpikir sayap kanan atau kiri, ikuti saja telingamu jika kau tak ingin trus mengikuti apa yang orang lain lakukan hingga mati!

Aku tak akan pernah pulang awal karena aku muak dengan orang-orang yang tak ingin mencoba cari tau tentang aku.
Selamanya aku hanya dianggap pelacur kecil pemimpi yang berbicara omong kosong tentang dunia dan isinya.
Ya! bahkan sesungguhnya aku lebih buruk dari itu!

Tapi bukan salahku bila aku selalu dipaksa berpikir naif dan negatif! karena dunia ini tak pernah berada dipihakku!

Aku hanya orang biasa, aku hanya kura-kura yang marah mengapa dirinya dibebani tempurung yang berat untuk berjalan!

NEVER ENDING DISSAPOINT.
CRYING JUST 1% OF SADNESS!
I’LL TRY TO FVCK OFF!!!

TNRQ
dikamar. tujubelasoktoberduaributuju.
F(A)T(A)L

Remaja

March 26th, 2008 by tyateenager

"Hidup berputar seperti roda…" katanya.
tapi aku, statis.
aku, hanyalah tonggak kayu yang kelelahan mencari arti wacana sebuah kata.
semangat muda gundah gulana.
taik kucing kalian smua yang menyebut masa ini adalah masa yang paling indah.
bagiku, ini hanyalah,
lajur tengah yang memaksa kita memilih jatuh di sisi yang mana.
dimana dua-duanya punya duri untuk kau tancapkan ke jantung kanan.

Berpegang erat pada logika.
hanya emosi kau bekalkan di otakku.
Lalu diam. perlahan-lahan aku mati kehabisan bisa.

Aku menjadi bangkai lemah pengurai tiap malam yang kuseka.
Mengumpat di balik kelambu yang kusekap di muka.
mengurai kelenjar tanda tanya yang bercucuran.

Aku selalu bertanya, kapan akan berakhir hidup bagai kayu lapuk yang kutendang seenaknya?
Tak pernah tertancap karena aku selalu. goyah.
Aku kesal kepada malam-malam dimana aku terbaring kaku menunggu pagi yang akan membunuhku.
dimana aku terpaksa mencabuk raga ini dari dinginnya pagi yang menusuk.

Aku letih kepada dering pesawat telepon yang memaksaku penuhi janji duniawi.
Aku ingin pergi ke pantai
dimana Gibran bisa mengeja semua desir anginnya.

Aku malu pada wanita yang memberiku darah yang berdesir disaat aku menendang pintu rumah yang gelap,
dimana aku harus berkali-kali melafalkan kata maaf dan hujat.

Aku ingin hidup sendiri. di dunia yang sendiri.

TNRQ

Support our Local Band!!!

July 22nd, 2006 by tyateenager

Banyak banget band indie di Ptk. (yah bs dibilang cukup banyaklah) baik yang diputar di radio, yang baru aja ngeluarin kaset/cd, atau yang dianggap hebat karena lagunya bagus, bla bla bla.

tetapi ketika saya tanyakan kepada teman-teman disekolah, dan saya sangkutkan pada pertanyaan: "eh pernah dengar band ini ga? band lokal b…"

ga ada satupun yang tau. (Gdubrakkk!)

saya ngerasa suatu band ‘terkenal’, ‘terkenal’ disni dalam artian hanya kepada komunitas ‘tertentu’ atau kebetulan ‘bergaul’ dan tau. jadi ketika sebuah band di kota ini dianggap bagus, terkenal, keren, belum tentu pada komunitas mainstream, teman2 sekolah, or org2 terdekat kita/keluarga, tau band itu.

kenapa bisa menjadi seperti itu? ehehehe, sok pinter banget siy (kayak yg tau jwabannya aja) kenapa sih terkenal hanya pada ‘org2′ tertentu saja. okelah mungkin jawabannya gini, org2 sini ga ‘ngeh’ tu sama band lokal, alias kurang nyupport, sehingga kalopun ada yang terkenal skali dikalangan sesama musisi, tetap saja banyak yang tidak-tau nama band tersebut. so sad.

kalo menurut saya sih, mereka terlalu terpaku sama band2 TV dan Radio dari kota2 besar yang tiap hari berseliweran di media sana-sini. yang kalo kita sebut nama vocalisnya atau singlenya satu aja, bakal bisa ditebak. sedangkan band lokal? begitu sempitnya! kesannya org2 ga ada yang perduli, anak2 mudany sendiri sama sekali ga mendukung.

kalo pun ada yang tau paling2 hanya sedikit sekali yang tau. yang ngerequest band itu di radiopun jg orgny itu2 jg.

bahkan masih banyak pikiran picik seperti ini: kalo ga terkenal, ngapain didengerin? damn.

seharusnya mereka mengikuti dan menyupport. atau mungkin band2 itu kurang mengikuti selera pasar org ramai? tidak juga, ada banyak band2 pop lokal yang lagunya asik2 tetapi ketika saya sangkutkan di percakapan teman2 di’luar’ tetap saja tidak ada yang tau. ehehehe, jadi terkesan saya yang ‘bodoh’.

huah,,, jadi bingung sendiri, bisa ga sih ada band yang bgitu dipuja2 dikota sendiri, tiap mereka konser anak2 sekolah dari berbagai penjuru datang, semua org bs ikutan nonton, dan mereka jg menyupport band itu untuk tembus pasaran nusantara?

well, we will c in the future. mayb.

SadSadSad

July 22nd, 2006 by tyateenager

pecundang
di tiap senyum yg merekah
ditiap senti koridor yang berderak
dan sepatu anak yang menghitam

malaikat kembali merangsangkan senyumnya di kepulan atap
mencoba mengikat tiap sesal menjadi iba

kembali pulang ke kandang
ingin merajut
menanak
menjadi kepulan nekat yang berlari-lari

di jemari,
ketika malam datang
semua beradu di ubun
bagaikan perang preman dengan panjang pedang
saling berdencing
berkelahi
di tengah otak yang kemudian menjadi… lembab.

ditemani bunyi jangkrik yang menangis
mencoba mengukir tanda
kekecewaan atas siapa.
aku, kamu, diriku sendiri
lagi, lagi,,,
argh!

semuanya menipu,
ini sama sekali tak penting
sama sekali tidak penting
sampah! tetapi!

setelah itu kembali detak jarum mencela,
berbisik malam sudah melega
aku harus bernapas tanpa bersuara
karena esok akan ada awal dari smua problema

yakinkan diri,
aku bisa,
pejamkan mata,
injak mentari!